Analisis Film Crash

Posted: 16 Januari 2009 in Tugas Kuliah Terbaik
Tag:,

Perbedaan yang tidak disikapi dengan bijak memang kerap melahirkan pertentangan. Hal inilah yang diangkat dalam film Crash. Mengambil setting sebuah kota di Amerika yang penduduknya sangat kompleks, film ini sangat kental dengan nuansa rasial. Hal yang sifatnya kompleks tentunya menyimpan banyak perbedaan di dalamnya. Mulai dari masalah fisik (warna kulit) yang sifatnya kongkrit hingga kebudayaan (kultur) yang sifatnya lebih abstrak. Persinggungan pun tak dapat dihindari, apalagi didukung dengan stereotype negative yang kelewat mengakar tanpa mau menelaahnya. Film Crash sendiri mencoba mengingatkan penontonnya agar jangan cepat berprasangka buruk karena stereotype negative yang terlanjur melekat dalam diri individu. Karena prasangka buruk ini dapat berkembang menjadi suatu kecurigaan yang berlebihan, serta dapat memercikkan suatu persoalan atau pertentangan.

Keanekaragaman budaya adalah salah satu contoh “perbedaan” di dunia. Secara luas, budaya tidak sekedar hal-hal yang berbau kesenian tetapi juga mencakup kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam masyarakat. Budaya merupakan suatu konsep yang sangat rumit, dan memiliki lebih dari 300 definisi (Sadtono: 2003). Tapi sederhananya, konsep ini mengacu kepada satu kelompok atau komunitas yang berbagi cara pandang yang sama dalam memahami dunia sekelilingnya. Perbedaan ras dalam film Crash cenderung menjebak individu dalam stereotip, overgeneralisasi, dan prasangka budaya. Hal ini akhirnya menghambat komunikasi lintas budaya serta memunculkan konsekuensi yang lebih parah, yaitu ketersinggungan budaya.

Individu-individu yang berbeda kultur tidak akan serta merta menerima kebudayaan individu lain yang berbeda dengannya. Sangat banyak dijumpai orang-orang memberikan penilaian yang salah tentang budaya orang lain. Indikatornya tak lain adalah karena penilaian tersebut hanya melibatkan kesan, perasaan, dan intuisi subyektifitas semata. Dengan kata lain, penilaian hanya berpatokan pada kaca mata budaya atau perilaku diri sendiri untuk mengukur dan menilai budaya atau perilaku orang lain. Sehingga dapat dipastikan penilaian yang diberikan akhirnya bersifat subyektif, karena parameter kebenaran yang digunakan adalah budayanya sendiri. Nilai-nilai kesopanan, norma-norma, patut-tidak patut, akhirnya menjadi sangat relatif dalam wacana kebudayaan.

Pentingnya Komunikasi Lintas Budaya

Litvin (1977) menyatakan bahwa dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda. Intinya, tidak ada salahnya jika seseorang berusaha untuk mempelajari budaya orang lain yang ada di sekelilingnya. Hal ini justru dapat memperkaya cara pandang individu terhadap kehidupan. Tidak semua budaya yang baik dan benar dalam kacamata seseorang juga dirasakan sama baik dan benarnya dari kacamata orang lain. Untuk menyamakan persepsi tersebut atau setidaknya meminimalisir dampak negatif akibat perbedaan budaya ini, maka komunikasi sangatlah diperlukan.

Komunikasi dengan kepala yang dingin memang sangat ampuh untuk menyatukan manusia sebagai pribadi yang unik dalam budaya yang beragam. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain, individu memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin berbeda pandangan setiap orang tentang dunia maka semakin banyak yang harus dipelajari dari perbedaan yang ada itu.

Litvin (1977) mengelompokkan tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya agar individu lebih menyadari bias budaya sendiri serta lebih peka secara budaya. Individu juga dapat memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut. Dengan kata lain, mulai dari sekarang individu diharapkan memandang segala sesuatu secara objektif diatas segala perbedaan yang ada di dunia. Perbedaan bukanlah hambatan untuk melakukan sosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Perbedaan justru alat bagi manusia untuk berkomunikasi dengan orang di sekelilingnya. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai seorang makhluk sosial.

Sumber :

- PowerPoint “Komunikasi Lintas Budaya” oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos, M.Si

- Artikel “Stereotip dan Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi Lintas Budaya”

Komentar
  1. adit FEB UGM mengatakan:

    tugas filsafat dasar FEB smester 1 ni. . .
    hha

  2. adi mengatakan:

    mbak.minta ijin buat mengambil artikel mbak.krm ada tgs klb.mohon maaf tapi sumbernya tdk saya sertakan.krn harus dianalisis sendiri.mohon diikhlaskan agar tdk menjadi tanggungan di dunia dan di akhirat. terima kasih.maaf sebelumnya.

  3. adi mengatakan:

    maaf permisi .saya mau ijin untuk mengcopy artikel ini buat tugas KLB. mohon diikhlaskan. bila ada apa-apa tolong hubungi lewat email. agar tidakmejadi tanggungan dunia dan akhirat.terimakasih

  4. adi mengatakan:

    maaf tadi waktu buka blog ini .saya kira tidak masuk komen saya. saya mohon aaf sekalilagi

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s