Analisis Film “Sometimes In April”

Posted: 7 Agustus 2008 in Tugas Kuliah Terbaik

Semua bentuk media massa, baik cetak, siar maupun on-line memiliki “kemampuan” untuk membentuk opini publik dalam masyarakat. Saking kuatnya pengaruh media, hal ini bahkan diyakini juga dapat membentuk pemahaman atau ideology. Lisya Anggraini, seorang jurnalis dan penulis menyatakan bahwa opini publik yang terbentuk akan berkembang menjadi nilai, lalu mengkristal menjadi ideology1. Dari hal itu, media mampu membentuk khalayak, kelas dan selera tertentu dari apa yang sudah jadi pemahaman atau nilai dalam diri.
Fakta lain, dengan kekuatan yang dimilikinya tersebut, media sangat rentan menjadi alat propaganda untuk mempengaruhi masyarakat. Tak hanya di bidang politik, media juga dapat dijadikan alat propaganda nilai-nilai ideologi. Dengan kata lain, media dimanfaatkan sebagai “instrumen” juang untuk mencapai tujuan apa saja. Carl I.Hovlan menambahkan bahwa propaganda merupakan usaha untuk merumuskan secara tegar azas-azas penyebaran informasi serta pembentukan opini dan sikap.
Film “Sometimes in April” ini sangat cukup menggambarkan bagaimana media-dalam hal ini radio-memiliki kekuatan yang besar dalam mempropaganda masyarakat. Materi siaran radio tersebut sangat “ampuh” memicu perang saudara pada bangsa Rwanda. Semua bentuk pembantaian dan pembakaran yang terjadi di Rwanda, berawal dari siaran radio RTML, Kigali.
Rwanda yang berada di wilayah Afrika ini terdiri dari banyak suku, dua diantaranya adalah suku Hutu dan suku Tutsi. Pertikaian antar 2 suku ini di Kigali, Rwanda pada tahun 1994, merupakan salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Afrika. Pertikaian tersebut merupakan akumulasi dari hubungan tak harmonis dari warga suku Hutu sebagai mayoritas dengan suku Tutsi sebagai minoritas khususnya, sejak negara tersebut terlepas dari masa penjajahan Belgia. Saat dijajah Belgia, suku Tutsi cenderung dimudahkan serta dianakemaskan sehingga menimbulkan kecemburuaan tersendiri di benak suku Hutu. Pertikaian antar suku pun tak terelakkan, yang mengarah pada pembersihan etnis (genocide) Tutsi dan menelan korban hingga ratusan ribu jiwa hanya dalam tempo yang relatif singkat.
Radio RTML begitu kuat mempropaganda suku Hutu, misalnya dengan terus mengobarkan “semangat” suku Hutu untuk terus berperang melawan suku Tutsi. Mengatakan bahwa suku Tutsi adalah kecoa yang harus dibasmi, bahkan membacakan daftar nama-nama dari suku Tutsi yang harus dibunuh. Atau menyuruh membasmi suku Tutsi dengan menggunakan parang. Radio RTML juga menyiarkan hal ini “Radio kesayangan kalian berkata jujur. Percayalah pada kami, kita akan mewujudkannya. Kami benar-benar berkata jujur. Kami selalu jujur pada kalian”.
Kata-kata “jujur” itu benar-benar dipercayai oleh warga suku Hutu. Semua bentuk propaganda dalam siaran tersebut, akhirnya membentuk “ideologi” tersendiri dalam benak suku Hutu yang melakukan pembantaian. Mereka selalu meneriakkan “kecoa-kecoa harus dibasmi” setiap kali akan membantai suku Tutsi di suatu wilayah. Mereka juga benar-benar menggunakan parang saat melakukan pembantaian. Radio RTML benar-benar berhasil membentuk khalayak Hutu dengan pemahaman bahwa suku Tutsi memang layak untuk dibasmi karena mereka adalah kecoa.
Disisi lain, penyiar radio RTML adalah orang Hutu. Bisa jadi, semua hal yang disiarkannya adalah bentuk ketidaksukaannya pada suku Tutsi atau hanya ingin menegaskan bahwa suku Hutu adalah suku mayoritas di Rwanda, dan ia hanya tidak ingin jika Rwanda kembali “dikuasai” oleh suku Tutsi yang minoritas seperti saat dijajah Belgia. Namun ia tidak menyadari jika ia telah membuat suatu kejahatan yang menyebabkan pembantaian massal di Rwanda.
Apapun itu, media benar-benar menunjukkan “taring”nya, bahwa media sangat ampuh digunakan sebagai alat untuk mempropaganda demi tujuan tertentu. Bahwa informasi di media mampu membentuk opini serta sikap khalayaknya. Entah itu hal yang baik hingga hal yang buruk sekalipun. Padahal realitas media hanyalah realitas semu, bukanlah realitas yang sesungguhnya.
Ketika media hanya mengutamakan kepentingan satu pihak, maka realitas yang lahir tentulah realitas yang bukan merupakan fakta telanjang yang ada pada masyarakat. Realitas yang sesungguhnya akan terbenam di palung yang dalam. Dan ini mesti dipahami oleh publik, tentang sebuah makna realitas media sehingga tidak hanya menelan informasi yang diterima sebagai kebenaran dan informasi yang sesungguhnya. Publik harusnya lebih kritis menyikapi hal ini2.

1,2Anggraini, Lisya. 2007. Realitas Media. (www.multiply.com, diakses tanggal 7
April 2008).

PS.Niy tugas kommas, gak ada unsur analisis sama sekali…jadi gak salah kalo akhirnya kommasQ cuma dapet C+, Hikz!!!

Komentar
  1. dedet feblio mengatakan:

    bleh minta link buat download film ny gak??
    dtgguuu..
    ^^

    • rindradevita mengatakan:

      wah, aku nonton film itu pas kuliah lewat laptop dosen…. jadi gak punya linknya. hehe…maaphh.

  2. Faishal Yoga Pratama mengatakan:

    lengkap bener isinya.., makasih, :D bantu banget.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s