Tuk Kutuk Is Here

dia ada,,,dan dia milikku,,,

Posted by: rindradevita on: 28 April 2009

aku bosan berkata cinta,,,
meski aku tak henti menikmatinya,,,,
dia memang ada,,,
selalu ada,,,untukku,,,

tak pernah ia bosan,,,
menanti aku di jalan itu,,,
menunggu aku kan digenggamnya,,,
aku tersadar dalam persimpangan,,,
bahwa dia,,,,dia ada
dan kini dia milikku,,,,

takkan ada cinta yang lain,,,
yang lain seolah terhapus cepat,,,
terganti olehnya,,,terobati olehnya,,,terisi olehnya,,,
dia,,,
dia membuatku berarti,,,,
dia membuatku istimewa,,,
dia membuatku miliknya,,,,
dia,,,,

dia ada,,,
dan dia milikku,,,,

Ada Hening Di Tengah Bising

Posted by: rindradevita on: 29 Maret 2009

Ada hening di tengah bising

menguji rasa menahan kama

di satu titik jiwa

mencoba mencari pembenaran

akan lapangnya mala

Tanpa api…

Tanpa terang…

Tanpa riang…

Tanpa perang…

Hanya hening di tengah bising

menggiring hasrat pada tapa

membawa diri pada brata

pada satu titik…

: Ning.

09.13 WITA

26 Maret 2009

Hari ini,,,

Posted by: rindradevita on: 6 Maret 2009

Aku mencoba merenung,,, semua hal yang pernah terjadi di hidupku,,, mungkin aku terlalu malas,,, karena aku sadar, aku telah melewatkan banyak hal. Saatnya untuk berubah, gag boleh kayak gini lagi… Aku punya sesuatu, aku bukan seorang yang “biasa” tapi aku emang gag pernah mengeksplor diriku,,, aku kurang kreatif menjalani hidup, masih terkungkung dalam mainstream yang aku yakini itu bukan mainstream (???),,,,,,,,

Nasi Lengko : Khas Jawa Barat Nyasar Di Malang

Posted by: rindradevita on: 16 Januari 2009

Bicara makanan khas kota Malang, yang terlintas umumnya tempe dan bakso. Jika tempe yang lebih tepat disebut camilan ini terkenal sebagai oleh-oleh khas kota Malang, maka bakso Malang pun telah diakui kelezatannya. Tak heran jika di daerah lain banyak ditemukan bakso dengan tagline “Bakso Arema”.
Tak hanya bakso Malang yang mampu menembus daerah lain, sejumlah makanan dari daerah lain juga turut meramaikan ranah kuliner kota Malang sendiri. Sebut saja rujak cingur khas Surabaya, pecel Blitar, roti bakar khas Bandung, nasi Padang hingga empek-empek dari Palembang. Semua makanan tersebut pastinya tidak asing di telinga, karena dapat ditemukan juga di daerah lain selain Malang. Namun, masih ada satu lagi makanan khas daerah lain yang terbilang “unik”. Adalah nasi lengko, salah satu dari sekian makanan khas Jawa Barat yang “kesasar” dan terbukti mampu “bertahan” karena lumayan digemari di Malang.
Mungkin terdengar agak asing di telinga, namun sebagian “warga” Universitas Brawijaya tentunya tahu makanan yang aslinya berasal dari Cirebon ini. Bagaimana tidak, nasi lengko ini “bermarkas” di kawasan Masjid Raden Patah (MRP) Universitas Brawijaya. Dan bisik-bisik yang beredar mengatakan jika nasi lengko di MRP ini adalah satu-satunya nasi lengko yang ada di Malang. “Saya memang gak buka cabang,” tutur Sukirman, pemilik nasi lengko MRP ketika ditemui, Sabtu (5/7).
Nasi lengko sejatinya adalah makanan khas masyarakat kota Cirebon, Jawa Barat. Makanan ini cukup sederhana dan terbilang murah meriah untuk kantong mahasiswa. Cukup dengan merogoh Rp.2.500 hingga Rp.3.000 saja sudah dapat mencicipi nasi lengko ditambah dengan topping satu telur dadar atau dua gorengan (tempe atau bakwan). Nasi lengko ini juga sarat akan protein dan serat serta rendah kalori karena bahan-bahan yang digunakan memang 100% nabati. “Nasi lengko itu isinya ya nasi, timun, kubis, tahu, tauge, bumbu kacang, kecap sama kerupuk,” jelas pria berkulit putih serta berwajah oriental dengan peci bundarnya yang khas. Walau aslinya dari Cirebon, namun Sukirman menegaskan jika nasi lengko miliknya ini justru berasal dari Tegal. ”Ada yang dari Tegal, ada dari Jawa Barat. Tapi kalau punya saya dari Tegal,” tambahnya lagi dengan logat Tegal yang sangat kental. Diakuinya pula jika ada perbedaan yang signifikan antara nasi lengko asal Tegal dan Jawa Barat. “Kalo yang dari Jawa Barat itu katanya ada kuahnya. Tapi saya sendiri belum tahu,” ujarnya sembari tertawa guyon. Kesan dingin yang sehari-hari ditampilkannya setiap melayani pengunjung  serta merta terhapus karena aslinya ia adalah pribadi yang sangat humoris dan gemar bercanda.
Ketika ditanya sejak kapan membuka usaha ini, ia pun sempat menjawab dengan nada menggoda. “Bukanya dari pagi sampai sore, terus gak pernah tutup. Kan gak ada pintunya,” jawabnya dengan logat Tegal yang jenaka. Hingga akhirnya ia menuturkan jika ia mulai berjualan nasi lengko di Unibraw sejak tahun 1999. Selain nasi lengko, pria kelahiran 11 April 1962 ini juga berjualan ketoprak, makanan khas Jakarta. Dua panganan ini sebenarnya agak mirip, hanya saja ketoprak ditambah dengan bihun. ”Kalo ketoprak itu sama kayak tahu lontong, kalo nasi lengko kayak pecel disini,” tambah Sukirman.
Asal mula nama nasi lengko juga tidak asal comot. Kata ”lengko” rupanya diambil dari nama Majalengka, salah satu daerah yang ada di Jawa Barat. ”Kalo di Jawa Barat namanya nasi lengka soalnya orang Jawa Barat pake ”a”, tapi karena disini (Malang, red) pakenya ”o” jadi dibaca lengko,” begitu ungkap pria tiga anak tersebut sembari tertawa. Awalnya, Sukirman pun sempat menjawab dengan nada bercanda mengenai asal muasal nama ”lengko”. ”Dari dulu-dulunya gitu, saya kan hanya meneruskan saja,” candanya.
Bagi yang ingin menyantap makanan enak sekaligus tidak menguras kocek, rasanya nasi lengko Sukirman sangat pas untuk dijadikan pilihan. Selain cukup bersahabat dengan kantong mahasiswa, ditambah letaknya yang masih si area kampus Unibraw, menu ini juga terbilang sehat karena tidak mengandung kolesterol. Setidaknya, mahasiswa non-Jawa Barat juga tidak perlu jauh-jauh berkunjung ke Cirebon atau Majalengka untuk mencoba makanan ini. Karena memang telah ada di Malang, dan satu-satunya di Unibraw. (rindra).

Sebuah Kolaborasi Seni di Malam Minggu

Posted by: rindradevita on: 16 Januari 2009

Malam minggu masih sibuk pacaran? Mending nonton kolaborasi seni!

Indonesia kaya akan budaya. Beraneka ragam budaya dapat ditemui dari sabang sampai merauke. Mungkin inilah yang menginspirasi Paduan Suara Mahasiswa (PSM) Universitas Brawijaya untuk menggelar konser yang bertajuk “Senandung Indonesiaku”. Bertempat di gedung Student Center UB, gelaran untuk menunjukan eksistensi PSM ini memukau penonton yang hadir.

The 6th Annual Concert “Senandung Indonesiaku” ini dibuka dengan tembang Simfoni Raya Indonesia, lalu berturut-turut mengalir pula lantunan lagu Bumiku Indonesia, Melati Suci, Rangkaian Melati, Bengawan Solo, dan Zamrud Khatulistiwa. Kesemua tembang itu merupakan bagian dari babak Nostalgia Indonesia. Uniknya, di setiap jeda pergantian lagu muncul semacam “drama” dari teater Arca untuk menyambung setiap lagu agar tetap saling terkait satu sama lain. Konser ini pun terlihat lebih hidup dan berkesinambungan.

Berlanjut ke babak kedua, Ragam Indonesia. Anggota PSM yang semula berkostum batik segera berganti dengan pakaian khas Bali. Wanita memakai kain prada khas Bali, sementara yang pria memakai kaos hitam, udeng, dan saput poleng (kain hitam putih, red). Ragam Indonesia memang sarat akan lagu-lagu daerah. Mulai dari Caping Gunung, Umbul-Umbul Blambangan, Sinampure, Janger, Sing Sing So, Angin Mamiri, O Ina Ni Keke, dan Yamko Rambe Yamko. Drama pengantar lagu dari teater arca pun tetap ada. Drama ini berisi perbincangan antara dua orang Jawa dan satu orang Batak, tentang Indonesia serta kebudayaannya yang beragam untuk mendukung kesinambungan lagu yang dinyanyikan PSM.

Diantara semua penampilan, yang relatif menyedot adalah lagu janger. Untuk menyanyikan lagu ini, PSM berkolaborasi dengan Unit Aktivitas Karawitan dan Tari (Unitantri). Saat suara khas anak-anak paduan suara melantunkan lagu janger diiringi dengan gamelan khas Jawa oleh Unitantri, tiba-tiba muncul dua orang penari janger yang memang asli dari Bali. Lengkap sudah perpaduan unik nan menawan antara paduan suara, tarian khas Bali dan gamelan khas Jawa dibawah konduktor Ira Purnama Sari.

Sayangnya, saat menuju lagu Yamko Rambe Yamko sempat terjadi “vakum” penampilan untuk sementara. Drama pengisi jeda terlalu cepat berakhir, sementara anggota PSM masih berganti kostum khas Papua di backstage. Tapi penantian itu segera berakhir dengan penampilan apik PSM lewat lagu daerah provinsi di ujung timur Indonesia tersebut. Penampilan ini seolah menghapus harap-harap cemas penonton yang cukup menunggu lama, sebab PSM juga melakukan koreografi menarik saat bernyanyi.

Konser ini juga melibatkan pianis Astrilia Paramitha dan Ferdian Wahyu serta violis Ugik “Arbanat”. Di tengah acara, Astrilia Paramitha juga sempat menunjukkan kelihaiannya memainkan jari-jari diatas piano dengan judul “Fragmen”. Konser ini lalu ditutup dengan lagu Rayuan Pulau Kelapa yang berakhir pukul 9 malam. Malam minggu yang cukup mengesankan.(rindra)

Pahlawan Tak Boleh Setengah Hati

Posted by: rindradevita on: 16 Januari 2009

Merebut, mempertahankan, lalu mengisi kemerdekaan. Inilah tugas seorang pahlawan sejati.

Bicara pahlawan, yang terlintas umumnya orang yang berjuang membela bangsa hingga titik darah penghabisan. Pahlawan akhirnya identik dengan pejuang kemerdekaan.
Tapi itu dulu, kini Indonesia telah menjadi bangsa yang merdeka. Definisi pahlawan pun turut berkembang, tak lagi tentang pejuang yang berjuang di medan perang. Meski intinya tetap sama, “orang yang berjasa bagi orang lain”.
“Pahlawan tu gag mesti orang yang berperang atau bertempur, tapi pahlawan itu adalah orang yang bisa membuat orang lain merasa nyaman, bahagia, senang, dan tertawa,” tegas Bayu, Ketua Angkatan 2008.
Senada dengan pernyataan Bayu, Dira juga mengiyakan jika pahlawan tidak hanya ada di medan perang. “Orang tua, keluarga, dan teman dekat pun bisa disebut pahlawan karena mereka menyelamatkan hidup dan memanusiakan saya,” tutur UK’ers dari FTP’07 ini.
Lain lagi pendapat dari Putra, Ketua UK 2008-2009. “Pahlawan itu orang yang rela melakukan sesuatu demi kebaikan bersama dan mempunyai keikhlasan tinggi terhadap sesama,” ujarnya. Bli Ary, mantan Ketua UK 2006-2007 juga mendukung pernyataan Putra. “Pahlawan itu orang yang berani memperjuangkan kepentingan orang lain,” begitu ungkap mahasiswa MIPA 2004 ini.
Sementara rekannya mengartikan pahlawan lebih sempit lagi, Raharja rupanya masih terjebak dalam mainstream pahlawan. Meski begitu, ia tetap memiliki pandangan yang unik. “Pahlawan itu ya prajurit, pemimpinnya bukan seorang pahlawan kecuali dia turun langsung ke medan perang,” ungkap Ketua angkatan 2006 ini.
Tak jauh beda dengan Dira yang menyebut keluarga dan teman dekatnya sebagai pahlawan, Bayu pun mengungkapkan hal yang sama. “Dalam hidupku cuma ada satu pahlawan yakni ibuku,” serunya diplomatis.
Bli Ngurah, UK’ers dari FP’05 justru berpendapat lain. Menurutnya, semua orang seharusnya bisa menjadi seorang pahlawan. “Seberapa besar orang bisa memberi pengaruh pada orang lain,” jelasnya. Yang dimaksud tentunya pengaruh yang positif bagi orang lain.
Generasi Muda, “Pahlawan” Pengisi Kemerdekaan
Sebagai generasi muda penerus bangsa, tugas yang harus diemban tentunya mengisi kemerdekaan yang telah susah payah direbut ini. Tak pelak, sedari dini generasi muda harus menumbuhkan kesadaran akan “tugas”nya tersebut.
“Gag usah berpikir jauh-jauh, simple aja. Liat diri kita sendiri, apa posisi kita dalam masyarakat lalu lakukan dengan maksimal,” terang Bli Ary. Hal yang sama juga diutarakan oleh Dira dan Putra, yang memposisikan diri sebagai seorang mahasiswa. “Belajar yang rajin dan berkelakuan sesuai aturan,” ungkap Putra, yang diiyakan Dira.
“Konsentrasi aja sama bidang kuliahnya masing-masing, itu dimaksimalkan,” jelas Dira. “Jangan setengah hati, karena itu percuma. Sesuatu yang dilakukan dengan sepenuh hati, meski gagal tapi tetap merasa puas,” tambah Bli Ary lagi.
Di sisi lain, Bli Ngurah malah menyebut berdarma sebagai cara untuk mengisi kemerdekaan. “Apa yang kita anggap positif, itu yang kita buat termasuk menghargai diri sendiri,” lanjut Bli Ngurah.
Intinya, menjadi pahlawan memang tak boleh setengah hati dan harus berawal dari diri sendiri.(rindra)

Analisis Film Crash

Posted by: rindradevita on: 16 Januari 2009

Perbedaan yang tidak disikapi dengan bijak memang kerap melahirkan pertentangan. Hal inilah yang diangkat dalam film Crash. Mengambil setting sebuah kota di Amerika yang penduduknya sangat kompleks, film ini sangat kental dengan nuansa rasial. Hal yang sifatnya kompleks tentunya menyimpan banyak perbedaan di dalamnya. Mulai dari masalah fisik (warna kulit) yang sifatnya kongkrit hingga kebudayaan (kultur) yang sifatnya lebih abstrak. Persinggungan pun tak dapat dihindari, apalagi didukung dengan stereotype negative yang kelewat mengakar tanpa mau menelaahnya. Film Crash sendiri mencoba mengingatkan penontonnya agar jangan cepat berprasangka buruk karena stereotype negative yang terlanjur melekat dalam diri individu. Karena prasangka buruk ini dapat berkembang menjadi suatu kecurigaan yang berlebihan, serta dapat memercikkan suatu persoalan atau pertentangan.

Keanekaragaman budaya adalah salah satu contoh “perbedaan” di dunia. Secara luas, budaya tidak sekedar hal-hal yang berbau kesenian tetapi juga mencakup kebiasaan-kebiasaan yang terbentuk dalam masyarakat. Budaya merupakan suatu konsep yang sangat rumit, dan memiliki lebih dari 300 definisi (Sadtono: 2003). Tapi sederhananya, konsep ini mengacu kepada satu kelompok atau komunitas yang berbagi cara pandang yang sama dalam memahami dunia sekelilingnya. Perbedaan ras dalam film Crash cenderung menjebak individu dalam stereotip, overgeneralisasi, dan prasangka budaya. Hal ini akhirnya menghambat komunikasi lintas budaya serta memunculkan konsekuensi yang lebih parah, yaitu ketersinggungan budaya.

Individu-individu yang berbeda kultur tidak akan serta merta menerima kebudayaan individu lain yang berbeda dengannya. Sangat banyak dijumpai orang-orang memberikan penilaian yang salah tentang budaya orang lain. Indikatornya tak lain adalah karena penilaian tersebut hanya melibatkan kesan, perasaan, dan intuisi subyektifitas semata. Dengan kata lain, penilaian hanya berpatokan pada kaca mata budaya atau perilaku diri sendiri untuk mengukur dan menilai budaya atau perilaku orang lain. Sehingga dapat dipastikan penilaian yang diberikan akhirnya bersifat subyektif, karena parameter kebenaran yang digunakan adalah budayanya sendiri. Nilai-nilai kesopanan, norma-norma, patut-tidak patut, akhirnya menjadi sangat relatif dalam wacana kebudayaan.

Pentingnya Komunikasi Lintas Budaya

Litvin (1977) menyatakan bahwa dunia sedang menyusut dan kapasitas untuk memahami keanekaragaman budaya sangat diperlukan. Semua budaya berfungsi dan penting bagi pengalaman anggota-anggota budaya tersebut meskipun nilai-nilainya berbeda. Intinya, tidak ada salahnya jika seseorang berusaha untuk mempelajari budaya orang lain yang ada di sekelilingnya. Hal ini justru dapat memperkaya cara pandang individu terhadap kehidupan. Tidak semua budaya yang baik dan benar dalam kacamata seseorang juga dirasakan sama baik dan benarnya dari kacamata orang lain. Untuk menyamakan persepsi tersebut atau setidaknya meminimalisir dampak negatif akibat perbedaan budaya ini, maka komunikasi sangatlah diperlukan.

Komunikasi dengan kepala yang dingin memang sangat ampuh untuk menyatukan manusia sebagai pribadi yang unik dalam budaya yang beragam. Dengan mengatasi hambatan-hambatan budaya untuk berhubungan dengan orang lain, individu memperoleh pemahaman dan penghargaan bagi kebutuhan, aspirasi, perasaan dan masalah manusia. Pemahaman atas orang lain secara lintas budaya dan antar pribadi adalah suatu usaha yang memerlukan keberanian dan kepekaan. Semakin berbeda pandangan setiap orang tentang dunia maka semakin banyak yang harus dipelajari dari perbedaan yang ada itu.

Litvin (1977) mengelompokkan tujuan mempelajari komunikasi lintas budaya agar individu lebih menyadari bias budaya sendiri serta lebih peka secara budaya. Individu juga dapat memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain untuk menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan orang tersebut. Dengan kata lain, mulai dari sekarang individu diharapkan memandang segala sesuatu secara objektif diatas segala perbedaan yang ada di dunia. Perbedaan bukanlah hambatan untuk melakukan sosialisasi atau berinteraksi dengan orang lain. Perbedaan justru alat bagi manusia untuk berkomunikasi dengan orang di sekelilingnya. Tentunya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai seorang makhluk sosial.

Sumber :

- PowerPoint “Komunikasi Lintas Budaya” oleh S. Bekti Istiyanto, S.Sos, M.Si

- Artikel “Stereotip dan Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi Lintas Budaya”

UAS Berakhirrrr!!

Posted by: rindradevita on: 15 Januari 2009

Akhirnya,,,semua kegilaan ini berakhir,,, hehehe,,, Siap-siap liburan, tapi mau ikutan Ranggore dulu,,,,

Detik-Detik M3 dan JMC

Posted by: rindradevita on: 12 Januari 2009

Suasana begitu tegang, mencekam, tak tahu harus berbuat apa. Hujan rintik-rintik menemaniku menanti sebuah pertanyaan. Aku gelisah, aku resah, aku merintih, dan merinding (abisnya aku kedinginan, maklum ujan-ujan kagak pakek jaket, hehehe,,,:p). Ku tatap pintu itu, tertutup rapat berwarna coklat, RKB belum beli cat baru. Detik demi detik berlalu…terasa kelu….semu…..merayap melambat, maklum kelompokku adalah kelompok terakhir yang maju.

Hahhh….hari yang melelahkan…..didera dua ujian lisan…. hahhhh!!!!

KLB…….Gailleeee!!!

Posted by: rindradevita on: 12 Januari 2009

Baru aja ikutan ujian lisan KLB alias Komunikasi Lintas Budaya,,,, Sial, kagak bisa jawabbb… Oh, goshhh!!! Siap-siap menangis darah negh,,,, huhuhu,,,, aku gaille!!! aku gag sanggup lagi hidup di dunia iniiii,,,(lebayyy!!!).
Kenapa ini terjadi padakuuuuuuu????