“Ini angin dari sana gag bisa nie…kesana dia…coba-coba…deketin sana aja…” seru Putu Wijaya pada salah satu orang yang sedang menyetting panggung. Kira-kira satu jam lagi, Putu Wijaya akan bermonolog dalam rangkaian Roadshow Burung Merak di Open Stage, Lovina. Beruntung, ia mau menerima xpOse untuk berbincang-bincang selama kurang lebih lima menit.
Meski terasa begitu singkat, Putu mengungkapkan kegelisahannya pada dunia pendidikan yang mulai kehilangan pelajaran budi pekerti. Sastrawan kelahiran Tabanan, 11 April 1944 ini melihat pendidikan yang dicanangkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar kompetitif, rasanya belum cukup tanpa bumbu budi pekerti di dalamnya.
Baginya, hal tersebut hanyalah semacam reaksi terhadap globalisasi yang hanya menuntut manusia untuk tidak takut bersaing di era yang semakin bebas ini. “Kalau kita cerdas dan mampu bersaing, bagaimana kalau moralnya tidak bagus? Jadi musti ada kebijakan, yang mesti difokuskan pada pendidikan kita adalah pendidikan budi pekerti yang selama ini hilang,” tegasnya.
Putu cukup prihatin melihat budi pekerti semakin hari mulai goyah digerus waktu. Manusia Indonesia boleh saja cerdas dan kompetitif, tapi hal itu tetap tak berarti jika si empunya tidak memiliki moral yang bagus. “Jadi moral kita hancur. Meskipun dia cerdas, dia bisa berkompetisi, dan kalau dia moralnya tidak bagus itu bisa hancur,” lanjut pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini.
Kehancuran moral juga berimbas pada hilangnya karakter bangsa. “Kita menjadi manusia dan bangsa yang tidak mempunyai karakter, kita kehilangan karakter sekarang ini. Pendidikan kita harus menyadari betul bahwa cerdas dan kompetitif tidak cukup,” ujar Putu.
Tidak Usah 10, Bahaya!
Cerdas, kompetitif, dan berkepribadian. Tiga elemen inilah yang sebenarnya harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Apalagi kita sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi cerdas jika mendapat pendidikan yang baik. Pendiri teater Mandiri ini bersikukuh jika Indonesia masih belum memiliki keseimbangan rasa dalam mengelola elemen tersebut.
“Yang belum ada
adalah masalah keseimbangan rasa. Karena kalau tidak ada keseimbangan rasa itu menjadi tidak ada gunanya. Bisa jadi karena manusia Indonesia sekarang seperti diarahkan untuk mencapai sukses. Sukses itu sering diukur dengan materi. Manusia Indonesia menganggap bisa mengumpulkan materi banyak itu sukses, dan sukses itu harus jadi nomor satu.
Harus didaur ulang lagi bahwa kita jangan mendidik orang untuk menjadi nomor satu tapi musti mendidik orang untuk mencapai yang terbaik menurut kualitas dia. Kalau dia memang kualitasnya lima, asal dia mencapai lima sudah bagus. Gag usah harus mencapai sepuluh, bahaya! Karena itu penting sekali pendidikan budi pekerti,” jelasnya panjang lebar.
Dalam pandangannya, pendidikan humaniora dan kesenian adalah bagian penting untuk mendidik manusia dari dalam dirinya. “Jadi bukan pembangunan fisik saja yang diperlukan sekarang, mesti ada keseimbangan dengan pendidikan rohani, agama. Harapan-harapan kita pada kesenian yang menselaraskan jiwa kita, bagaimana manusia berbuat santun dan melihat orang lain sebagai manusia yang sama dengan dia. Kesenian punya potensi yang tinggi untuk itu,” tutur Putu yang telah menyutradarai 3 buah film dan 4 serial sinetron itu.
Lebih daripada itu, Putu juga menilai kebudayaan merupakan suatu asset yang luar biasa, yang dapat menjaga agar harmoni itu tidak hilang. Di sisi lain, peraih penghargaan Sea Write Award ini melihat generasi muda sekarang terbawa oleh arus, serta mengejar hal-hal yang sifatnya material saja.
“Bukan salah mereka. Kenapa? Karena orangtua mereka juga sudah begitu. Orang tua mereka sibuk mencari uang untuk menjadi sukses lalu menyerahkan pendidikan pada sekolah-sekolah saja. Pada akhirnya anak itu dididik oleh sekolah, sedangkan guru-gurunya hanya bertanggungjawab untuk membuat anak itu menjadi cerdas dan kompetitif, tidak membuat anak itu berkepribadian.
Anak-anak itu akhirnya dididik oleh televisi, PS 2, dunia maya, pembantu-pembantu karena para orangtua sibuk bekerja mencari uang. Orangtua tidak punya remote control lagi, maksudnya remote control secara spiritual. Jadi orangtua tidak mau mendidik anaknya lagi,” bebernya secara blak-blakan.
Sekolah-sekolah mahal yang banyak berdiri di Indonesia di matanya hanya mendidik otak saja, tapi tidak mengarahkan serta mendidik pelajar sebagai “manusia”. Situasi ini sangat berbahaya, lantaran masih memiliki sangkut paut dengan skenario globalisasi yang hanya menjadikan Indonesia sebagai “pasar” bagi negara-negara maju.
“Kita dalam suatu situasi yang terpancing menjadi pasar untuk negara-negara yang lebih maju. Jadi kita sudah dibelokkan, lama-lama kita akan menjadi pasar. Dan globalisasi ini sebetulnya kan ulah dari negara-negara yang sudah maju untuk membuat sedemikian rupa sehingga kita tetap hanya akan menjadi pasar,” terangnya.
Negara-negara maju itu melemparkan semua teknologinya atau benda-benda modern-nya pada kita untuk dibeli atau dikonsumsi. Di sisi lain, semua benda yang mereka tawarkan justru berasal dari kita. Dengan kata lain, mereka mengambil dari kita untuk ‘dijual’ lagi pada kita dengan ‘harga’ yang lebih mahal. “Kita dalam menghadapi itu tidak cukup hanya dengan berkompetisi tapi kepribadian kita juga harus kuat,” pungkasnya.rindz