Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali mewakili Negara dan atas nama Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia secara resmi menyerahkan Ijin Penyelenggaraan Penyiaran (IPP) Tetap kepada Bali TV. IPP Tetap diserahkan Ketua KPID Bali DRH. Komang Suarsana, M.MA,  kepada Pimpinan Bali TV Satria Naradha di Gedung Pers Bali Ketut Nadha Denpasar, Jumat (6/5).

Komisioner KPID Bali yang juga hadir diantaranya Wakil Ketua Ni Nyoman Sri Mudani, SH, serta anggota I Nyoman Mardika, SS, I Wayan Yasa Adnyana, SH, Ni Putu Sai Harta Mimba, P.hd, M.Si, SE.Ak, I Made Nurbawa, SE dan I Made Putu Widiawan, S.Sos.

IPP Tetap ini adalah rangkaian terakhir dari segala proses yang telah dilalui Bali TV dan berlaku selama 10 tahun. “Kami dari KPID dan seluruh masyarakat Bali tentunya menaruh harapan yang besar mudah-mudahan dalam kurun waktu 10 tahun kedepan sesuai dengan masa berlakunya IPP tetap ini Bali TV betul-betul bisa tetap mengemban amanat dan aspirasi masyarakat, khususnya aspirasi yang memang menginginkan bagaimana agar Bali ini tetap ajeg,” ujar Suarsana.

IPP tetap yang diserahkan kemarin memiliki makna yang sangat penting terkait legalitas lembaga penyiaran Bali TV dalam mengabdikan diri di masyarakat pada masa mendatang. “Momentum penyerahan IPP ini kami harapkan bisa menjadi sebuah pertanda dan tonggak sejarah Bali TV untuk senantiasa melaksanakan atau menyelenggarakan penyiaran melalui program-program yang betul-betul memenuhi pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran,” lanjut Suarsana.

Apalagi dalam IPP telah tercantum segala sesuatu tentang lembaga penyiaran dalam menyelenggarakan siarannya, baik dalam bentuk program informasi hiburan, pendidikan, maupun yang bernuansa perekat sosial.

IPP diharapkan menjadi pedoman sehingga tidak muncul program-program yang justru akan merugikan masyarakat khususnya di daerah Bali. “Dari sisi kelembagaan, Bali TV sebagai salah satu lembaga penyiaran TV lokal yang sudah eksis dan secara legalitas akan semakin kuat dari aspek proses perijinan,” jelas Suarsana.

Komisioner KPID Bali juga menyampaikan terima kasih atas kerjasama Bali TV sebagai salah satu TV lokal perintis dan pelopor yang secara sportif dan formal mengikuti semua proses alur perijinan dengan baik.

“Sekali lagi kami sampaikan ucapan selamat kepada Bali TV dan seluruh masyarakat Bali, mudah-mudahan dengan IPP tetap yang kami serahkan hari ini, pengabdian Bali TV bagi ajegnya Bali akan semakin bisa memantapkan diri di tengah-tengah masyarakat Bali,” pungkasnya. (kmb/rind)

Untukmu, Bli….

Posted: 6 Mei 2011 in Sastra by.Rindra

tak mau mengingkari kalau kamu memang “asyik”..hihihi…

tinggal menunggu waktu menghapus beku ini karenanya…jadi sabarlah….

waktu kita masih banyak…iya kan?! setuju kan?!

menatap tajam matamu…entahlah, aku melihat egomu disana…

senyummu saja mengguratkan kalau kau ingin dinanti

tapi aku tak ingin berlari ketika kau memanggil lewat derai tawamu

kusangka kau sudah geregetan, tapi kau hanya diam dengan tatapmu

tapi saat membisu, aku merasa ingin ditunggu

bertahanlah…tapi tak berarti aku menahan…

hanya membuka sedikit celah untukmu…

“bersabarlah hingga sebulan kedepan karena aku tak ingin menerimamu dalam kebimbangan. aku hanya butuh yakin tentangmu. maka seterusnya, ketulusan ini hanyalah kutujukan padamu…. percaya aku dan bersabarlah….”

Pemerintah Harus Agresif Lindungi Kekayaan Bangsa

Songket, endek, dan tenun pegeringsingan merupakan tenun khas Bali. Warisan turun temurun ini wajib dilestarikan, ditengah merebaknya tenun tiruan. Masalah lain muncul karena tenun khas Bali bersama tenun khas Indonesia lainnya belum mengantongi hak paten. Akankah tenun bernasib sama dengan batik atau tari pendet yang sempat diklaim bangsa lain?

Gerak jemari memilin, menggulung, dan membentang benang, memicu suara gemerisik seiring bunyi sekoci dan palang kayu yang dihentak Komang Ardani. Begitulah alunan simfoni kreativitas perempuan asal Klungkung ini sebagai salah satu perajin tenun di Bali.

Benang demi benang secara otomatis tersusun menjadi selembar kain memesona. Seiring perjalanan waktu, kain tenun juga dimodifikasi dalam berbagai bentuk pakaian dan hiasan dinding. Proses pembuatan yang rumit dan membutuhkan waktu lama membuat tenun bernilai jual tinggi. Dalam sebulan, Komang Ardani mampu meraup penghasilan Rp.900.000,- bahkan lebih.

Di Bali, aktivitas menenun banyak ditemui di Kabupaten Karangasem dan Klungkung. Sentra tenun di Karangasem utamanya di Desa Tenganan dan Desa Sidemen. Tenun pegeringsingan yang dihasilkan desa Bali Aga Tenganan merupakan satu-satunya tenun ikat ganda yang ada di Indonesia, selain Jepang dan India.

Tenun ikat ganda melewati proses rumit dan lama karena menggabungkan teknik ikat lungsi dan pakan sehingga corak akan terbentuk pada persilangan benang lungsi dan pakan yang bertumpuk pada titik pertemuan corak yang dikehendaki. Tenun pegeringsingan yang berarti penolak bala ini juga memakai pewarna alami dari babakan (kelopak pohon) kepundung putih dicampur dengan akar pohon sunti, minyak buah kemiri serta pohon taum.

Hal lain yang membuat tenun Bali begitu istimewa adalah menggunakan jenis benang emas dan perak yang berbeda dengan daerah lain di Indonesia. Konsumen dari Jakarta paling banyak melirik tenun khas Bali ini. Sayangnya, produsen tenun masih dibayang-bayangi produksi kain tenun tiruan.

“Sekarang ada banyak sekali kain tenun tiruan sehingga kami agak susah saat memasarkan tenun,” tutur Ratni, salah seorang produsen tenun dari Karangasem. Selain tenun palsu, tenun Bali kini juga dihadapkan pada ancaman klaim oleh bangsa lain. Pasalnya, sampai saat ini tenun Bali bersama tenun khas Indonesia lainnya belum mengantongi hak paten ataupun pengakuan dari UNESCO.

“Kami sudah mengajukan untuk mendapatkan hak paten. Tapi tangan kami kan tidak panjang sehingga kami juga butuh peran serta pemerintah untuk segera mewujudkan hal itu,” ujar Okke Hatta Rajasa, Ketua Cita Tenun Indonesia. Cita Tenun Indonesia yang berkomitmen untuk melestarikan tenun juga telah meluncurkan buku “Tenun: Handwoven Textiles of Indonesia” sebagai salah satu media untuk mempromosikan tenun.

Kini bangsa Indonesia hanya bisa berharap agar Pemerintah lebih agresif dalam melindungi kekayaan bangsa ini. Jangan sampai Indonesia kecolongon untuk kesekian kali akibat keduluan di-klaim bangsa lain. (rindra)

Ingin Jadi Ombak

Posted: 6 Maret 2011 in Sastra by.Rindra

biarkan aku menjadi ombak

meramaikan pantai dengan debur mengurai

menyayat sepi meski tak menghapusnya

ijinkan aku menyimpan sepi

 

deburku bukan menghantam

hanya sapaan pelipur kelam

tak jua menggodamu

karena ku kan meringkik mundur

sesaat setelah kaki kakimu ku guyur rindu

selalu kau kan rindu

 

dan janganlah kau mendesah

karena ku takkan lelah

memberimu tatapan menggebu

setiap kau melihat riakku

maka ini alasanku…

 

20-02-11

rindra

Pelangiku

Posted: 6 Maret 2011 in Sastra by.Rindra
Tag:

tertatih ku diguyur hujan

dimana kelabu menjadi haru

dalam tempayan penampung kelu

tersudut hati pada caci bisu

sendu meramu

 

bila hujan ini mengering

seperti menanti masa bersemi

yang berlari dalam kerling imaji

aku butuh pelangi

tak sekedar khayal diri

 

warnamu tentramkan langit yang menderu

koyakkan satir petir

sayang ku tetap getir

waktu yang kau tawarkan buatku menggigil

hanya sekejap waktu pasir

sekejap.

 

20-02-11

rindra

 

dedicated to. Jagoan (hehe…)

Turuti Aku Saja!

Posted: 1 Maret 2011 in Sastra by.Rindra

berikan aku cinta saja

untuk menambal sajak yang terlanjur retak

untuk menghapus bisu dalam gelak

dengan memilikimu…

 

berikan rindu itu untukku

sebagai selimut kelamnya artiku

dalam dingin yang selalu menggerogoti

altar kalbuku…

 

dalam kisi dua jiwa

cinta dan rindu kuraba ada

terkungkung pada diam yang jumawa

padahal diam hanya kata yang tertunda

 

kau hanya butuh lepas

bukan tertahan oleh bungkam yang meraja

bukan terjebak pada kenangan lara

: turuti aku saja!

Tentang Hidup

Posted: 27 Februari 2011 in Uncategorized

 

Hidup ini bukan tentang mengumpulkan nilai. Bukan tentang berapa banyak orang yang menelponmu dan juga bukan tentang siapa pacarmu, bekas pacarmu atau yang belum kamu pacari. Bukan tentang siapa yang telah kau cium, olahraga apa yang kau mainkan, atau pemuda atau gadis mana yang menyukaimu. Bukan tentang sepatumu atau rambutmu atau warna kulitmu atau tempat tinggalmu atau sekolahmu. Bahkan juga bukan tentang nilai-nilai ujianmu, uang, baju, atau perguruan tinggi mana yang menerimamu atau tidak menerimamu.

Hidup ini bukan tentang apakah kau memiliki banyak teman, atau apakah kau seorang diri, dan bukan tentang apakah kau diterima atau tidak diterima oleh lingkunganmu. Hidup bukanlah tentang itu.

Namun, hidup ini adalah tentang siapa yang kau cintai dan kau sakiti. Tentang bagaimana perasaanmu tentang dirimu sendiri. Tentang kepercayaan, kebahagiaan dan welas asih. Hidup adalah tentang menghindari rasa cemburu, mengatasi rasa tak peduli dan membina kepercayaan. Tentang apa yang kau katakan dan kau maksudkan. Tentang menghargai orang apa adanya dan bukan karena apa yang dimilikinya. Dan yang terpenting, hidup adalah tentang memilih untuk menggunakan hidupmu untuk menyentuh hidup orang lain dengan cara yang tak bisa digantikan dengan cara lain. Hidup adalah tentang pilihan-pilihan itu.

 

Puncak, 2 Maret 1979

Retreat Mudika St. Agustinus

(Brigita Lamtiar-Gadis)

 

TENTANG HIDUP (SHEILA ON 7)

Akhirnya semua terjadi juga

yang kutakutkan yang kuelakkan

Keresahan ini tak seharusnya terjadi

Seakan jurang tercipta untuk kita

Selalu kucoba menghangatkanmu

dengan sebatang lilin di tengah badai ini

Akupun tak ingin kau meredup dan membeku

Dan lilin ini segalanya yang tersisa

Coba berusaha untuk lebih mencintaiku

Aku kan mencoba hal yang sama

Akupun tak ingin meninggalkan tempat ini

Apa yang kau rasakan aku juga merasakan

Bertahan sayang dengan doamu

Kucoba bertanya pada Tuhanku

Percayalah sayang ku tak ingin semuanya berakhir

Ku berusaha untuk slalu disini

Coba berusaha untuk lebih mencintaiku

Aku kan mencoba hal yang sama

Bentangkan maumu

Kita raih semuanya

Apa yang kau inginkan aku juga menginginkan

Rindukanlah diriku selagi punya waktu

Hargailah diriku ku tahu engkau mampu

waktu tak pernah terlambat. hanya manusia yang tidak cepat menyadari bahwa sesuatu itu istimewa. seperti halnya saya terhadap pria ini. sepuluh tahun yang lalu, waktu sudah mempertemukan kami. tapi saya tak ingin mengingat pertemuan itu. tak ada kenangan tentang dia yang tercatat secara istimewa. dia hanyalah laki-laki yang saya kenal sebagai teman sekelas.

setahun yang lalu dia sempat datang. berusaha menjadi yang istimewa, tapi tidak saya ijinkan. saya tidak akan meminta maaf untuk ini. karena keputusan saya benar. amat benar. karena saya akan sangat berdosa jika predikat istimewa itu saya paksakan untuknya. tapi tidak beberapa bulan lalu. saat saya hampir berada pada titik beku, justru dia yang mampu menghangatkan saya. saat saya mulai kehilangan arah tentang diri saya sendiri, pria ini mampu membuat saya melihat diri saya lagi. “dimana Rindra cuek dan tegar yang dulu,” begitu katanya. sejenak saya menangis, tapi segera saya menyadari bahwa selama ini saya memang tenggelam dalam realitas abstrak bernama sama dengan judul lagu d’bagindas. saya sadar karena pria ini.

saya harus melangkah kedepan, karena menurutnya ada banyak hal indah diluar sana yang menanti saya. salah satunya karir dan cita-cita yang sudah lama saya idamkan. saya berhasil kembali ke dunia saya lagi berkat dia. meski sangat berjasa, saya tak mau buru-buru menyebutnya istimewa. istimewa tidaklah segampang pertanyaan “siapa nama kepala sekolah Obama waktu bersekolah di SD Menteng?”.

saya memang betah berkirim pesan singkat dengannya. betapa hari-hari saya menjadi jauh lebih semarak. saya merasa sangat bersemangat. setidaknya saya kembali memiliki teman untuk bercanda, berkeluh kesah, atau sekedar berdiskusi. lambat laun saya tak memiliki kuasa untuk menahan rasa. rasa ini mengalir seperti air. rasa untuk mengakuinya istimewa. benar-benar istimewa. sangat istimewa. rasa ini begitu tulus, tanpa tendensi apapun, dan tanpa terpaksa sedikitpun. rasa ini juga bukan pelampiasan. rasa ini benar-benar sepenuh hati untuknya.

pria ini ternyata membuka jalan untuk itu. ya..dia berhasil jadi yang istimewa. tidak sesulit pertanyaan untuk asah otak seperti “sudahkah anda makan siang hari ini?”. sampai saat ini pun, dia masih istimewa untuk saya. meski kini, dia hanyalah pelangi yang tak mungkin saya miliki. karena waktu saya sudah habis untuk itu……

Pelangi : datang setelah hujan, sekejap memberi indah lalu pergi dan menghilang…

LIRIH

Kini tlah kusadari / dirimu tlah jauh dari sisi
kutau tak mungkin kembali kuraih / semua hanya mimpi
ingin ku coba lagi / mengulang yang telah terjadi
tetapi semua sudah tak berarti / kau telah pergi

Adakah kau mengerti kasih / rindu hati ini
tanpa kau disisi
mungkin kah kau percaya kasih/ bahwa diri ini
ingin memiliki lagi

kusadari kembali / ternyata semua khayal diri
kini kutau tak mungkin ada waktu / untuk mencintaimu lagi

dedicated to. mas’ayu

“Ini angin dari sana gag bisa nie…kesana dia…coba-coba…deketin sana aja…” seru Putu Wijaya pada salah satu orang yang sedang menyetting panggung. Kira-kira satu jam lagi, Putu Wijaya akan bermonolog dalam rangkaian Roadshow Burung Merak di Open Stage, Lovina. Beruntung, ia mau menerima xpOse untuk berbincang-bincang selama kurang lebih lima menit.

Meski terasa begitu singkat, Putu mengungkapkan kegelisahannya pada dunia pendidikan yang mulai kehilangan pelajaran budi pekerti. Sastrawan kelahiran Tabanan, 11 April 1944 ini melihat pendidikan yang dicanangkan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa agar kompetitif, rasanya belum cukup tanpa bumbu budi pekerti di dalamnya.

Baginya, hal tersebut hanyalah semacam reaksi terhadap globalisasi yang hanya menuntut manusia untuk tidak takut bersaing di era yang semakin bebas ini. “Kalau kita cerdas dan mampu bersaing, bagaimana kalau moralnya tidak bagus? Jadi musti ada kebijakan, yang mesti difokuskan pada pendidikan kita adalah pendidikan budi pekerti yang selama ini hilang,” tegasnya.

Putu cukup prihatin melihat budi pekerti semakin hari mulai goyah digerus waktu. Manusia Indonesia boleh saja cerdas dan kompetitif, tapi hal itu tetap tak berarti jika si empunya tidak memiliki moral yang bagus. “Jadi moral kita hancur. Meskipun dia cerdas, dia bisa berkompetisi, dan kalau dia moralnya tidak bagus itu bisa hancur,” lanjut pria yang bernama lengkap I Gusti Ngurah Putu Wijaya ini.

Kehancuran moral juga berimbas pada hilangnya karakter bangsa. “Kita menjadi manusia dan bangsa yang tidak mempunyai karakter, kita kehilangan karakter sekarang ini. Pendidikan kita harus menyadari betul bahwa cerdas dan kompetitif tidak cukup,” ujar Putu.

Tidak Usah 10, Bahaya!

Cerdas, kompetitif, dan berkepribadian. Tiga elemen inilah yang sebenarnya harus dimiliki oleh orang-orang Indonesia. Apalagi kita sebenarnya memiliki potensi untuk menjadi cerdas jika mendapat pendidikan yang baik. Pendiri teater Mandiri ini bersikukuh jika Indonesia masih belum memiliki keseimbangan rasa dalam mengelola elemen tersebut.

“Yang belum ada Pt Wijayaadalah masalah keseimbangan rasa. Karena kalau tidak ada keseimbangan rasa itu menjadi tidak ada gunanya. Bisa jadi karena manusia Indonesia sekarang seperti diarahkan untuk mencapai sukses. Sukses itu sering diukur dengan materi. Manusia Indonesia menganggap bisa mengumpulkan materi banyak itu sukses, dan sukses itu harus jadi nomor satu.

Harus didaur ulang lagi bahwa kita jangan mendidik orang untuk menjadi nomor satu tapi musti mendidik orang untuk mencapai yang terbaik menurut kualitas dia. Kalau dia memang kualitasnya lima, asal dia mencapai lima sudah bagus. Gag usah harus mencapai sepuluh, bahaya! Karena itu penting sekali pendidikan budi pekerti,” jelasnya panjang lebar.

Dalam pandangannya, pendidikan humaniora dan kesenian adalah bagian penting untuk mendidik manusia dari dalam dirinya. “Jadi bukan pembangunan fisik saja yang diperlukan sekarang, mesti ada keseimbangan dengan pendidikan rohani, agama. Harapan-harapan kita pada kesenian yang menselaraskan jiwa kita, bagaimana manusia berbuat santun dan melihat orang lain sebagai manusia yang sama dengan dia. Kesenian punya potensi yang tinggi untuk itu,” tutur Putu yang telah menyutradarai 3 buah film dan 4 serial sinetron itu.

Lebih daripada itu, Putu juga menilai kebudayaan merupakan suatu asset yang luar biasa, yang dapat menjaga agar harmoni itu tidak hilang. Di sisi lain, peraih penghargaan Sea Write Award ini melihat generasi muda sekarang terbawa oleh arus, serta mengejar hal-hal yang sifatnya material saja.

“Bukan salah mereka. Kenapa? Karena orangtua mereka juga sudah begitu. Orang tua mereka sibuk mencari uang untuk menjadi sukses lalu menyerahkan pendidikan pada sekolah-sekolah saja. Pada akhirnya anak itu dididik oleh sekolah, sedangkan guru-gurunya hanya bertanggungjawab untuk membuat anak itu menjadi cerdas dan kompetitif, tidak membuat anak itu berkepribadian.

Anak-anak itu akhirnya dididik oleh televisi, PS 2, dunia maya, pembantu-pembantu karena para orangtua sibuk bekerja mencari uang. Orangtua tidak punya remote control lagi, maksudnya remote control secara spiritual. Jadi orangtua tidak mau mendidik anaknya lagi,” bebernya secara blak-blakan.

Sekolah-sekolah mahal yang banyak berdiri di Indonesia di matanya hanya mendidik otak saja, tapi tidak mengarahkan serta mendidik pelajar sebagai “manusia”. Situasi ini sangat berbahaya, lantaran masih memiliki sangkut paut dengan skenario globalisasi yang hanya menjadikan Indonesia sebagai “pasar” bagi negara-negara maju.

“Kita dalam suatu situasi yang terpancing menjadi pasar untuk negara-negara yang lebih maju. Jadi kita sudah dibelokkan, lama-lama kita akan menjadi pasar. Dan globalisasi ini sebetulnya kan ulah dari negara-negara yang sudah maju untuk membuat sedemikian rupa sehingga kita tetap hanya akan menjadi pasar,” terangnya.

Negara-negara maju itu melemparkan semua teknologinya atau benda-benda modern-nya pada kita untuk dibeli atau dikonsumsi. Di sisi lain, semua benda yang mereka tawarkan justru berasal dari kita. Dengan kata lain, mereka mengambil dari kita untuk ‘dijual’ lagi pada kita dengan ‘harga’ yang lebih mahal. “Kita dalam menghadapi itu tidak cukup hanya dengan berkompetisi tapi kepribadian kita juga harus kuat,” pungkasnya.rindz

Pengklaiman budaya Indonesia kembali terjadi. Biang keroknya tetep aja sama, negara tetangga serumpun yang kayaknya gag pernah capek buat ‘nyolong’ kebudayaan Indonesia. Yeah,,,Malaysia. Aksi klaim ini tentunya bikin mereka (Malaysia, red) jadi keliatan gag punya kepribadian dan identitas coz masih suka ngaku-ngaku budaya orang. Ya gag?! Hihihi,,,

Aduhhh,,,tetangga kita yang atu ini koq gag ada kapok-kapoknya yaa? Kemaren udah mengklaim lagu Rasa Sayange, trus Reog ponorogo, batik, eh,,,sekarang malah mengklaim tari pendet, budaya asli masyarakat Bali. Padahal tari pendet udah ada dari jaman dulu loh buat kepentingan upacara agama umat Hindu di Bali. Jadi tarian ini sifatnya sakral karena sarat dengan nilai religius. Eh, Malaysia malah make buat iklan promosi pariwisata negaranya.

Dalam perkembangannya, mantan Presiden Soekarno yang sempet menyaksikan tari ini lalu meminta agar tari pendet tidak hanya dipertontonkan pada saat upacara agama saja. Tapi juga dapat disaksikan sebagai tari pertunjukan. Karena itu di tahun 50an, seniman Wayan Rindi dibantu Ketut Reneng lalu menggubah tari pendet menjadi tari pertunjukan dengan I Wayang Saplug sebagai penata tabuh. Kemudian sejak tahun 1961, tari ini disempurnakan oleh Wayan Berata. Maka gag heran, mpe sekarang tari pendet ngetop sebagai tarian pertunjukan untuk menyambut tamu.

Gerakan dalam tari pendet sangat sederhana, meliputi agem kanan dan kiri, ngegol, ngelung, ngumbang, mingser, sembahan, dan kembang ura. Bisa dibilang, tari pendet merupakan gerakan dasar semua tari di Bali termasuk tarian kreasi baru. Rasanya aneh banget kalo tari pendet yang udah ’berumur’ tiba-tiba diklaim sama Malaysia, yang baru merdeka setelah tari pendet digubah menjadi tari pertunjukan.

Klaim yang benar-benar gag masuk akal ini juga dirasakan oleh salah satu maestro tari di Bali, Ni Ketut Arini, SST yang juga keponakan dari Wayan Rindi, penggubah tari pendet. ”Tari pendet kan sudah diciptakan tahun 50-an, jadi jauh sekali. Baru diklaim sekarang itu aneh,” katanya menegaskan.

Kenapa aksi klaim ini bisa terjadi? Apa karena masyarakat Indonesia khususnya yang ada di Bali kurang memperhatikan ato melestarikan tari Bali? Nggak juga low, coz sanggar tari hampir ada dimana-mana, di setiap sudut daerah di Bali. Apa karena seniman Bali lambat mendaftarkan karyanya agar memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HaKI)? ”Seniman itu terlalu sibuk, sehingga belum bisa mikirin hak paten,” tutur Arini yang punya sanggar tari Warini ini ditengah-tengah acara pernyataan sikap seniman Bali terhadap klaim Malaysia atas tari pendet di Art Center Denpasar beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali ternyata udah nyetor data karya kebudayaan tradisional Bali kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata di Jakarta 11 Maret 2009 lalu. Ada delapan klasifikasi dan jenis karya budaya tradisional Bali, kayak filosofi kehidupan masyarakat Bali yakni Tri Hita Karana, arsitektur tradisional Bali, sistem religi, adat istiadat dan sosial kemasyarakatan, sistem pengolahan pertanian, tata rias dan busana tradisional, pola olah raga tradisional, indikasi geografis, serta pakem dan pola pertunjukan, pementasan kesenian sakral atau wali, klasik dan profan, dimana tari pendet termasuk dalam klasifikasi ini.

Hanya saja wilayah Indonesia yang luas dengan kebudayaan yang buanyak banget, gag cuma yang ada di Bali bikin penanganan data karya tersebut jadi lambat. Akibatnya seniman juga lambat buat ngedapetin HaKI atas karyanya. Belum lagi seniman Bali kadang gag pernah terfikir buat ngusulin hasil karya seninya biar dapet hak paten, karena konsep berkesenian masyarakat Bali umumnya merupakan persembahan untuk Tuhan serta masyarakat alias ngayah.

Apapun itu, warga negara Indonesia gag boleh tinggal diam dengan aksi klaim ini. Pasalnya ini bukan yang pertama kalinya. Pemerintah juga harus tanggap dengan kejadian ini, jangan sampai terulang lagi. Selain tari pendet, Malaysia juga sempet mau beli Garuda Wisnu Kencana (GWK) seharga 1,5 Trilyun pada tahun 2005 lalu. Untungnya gag diijinin, kalo diijinin Bali juga jadi punya Malaysia dunz?! Terakhir, Malaysia juga mau mengklaim bahasa Indonesia sebagai miliknya! Jangan sampai ini terjadi,,,(rindz)

PS. Nie tulisan udah lama, tapi kayaknya masih menarik…:p